Social Icons

Laman

Featured Posts

22 Nov 2016

Mari Ngopi di Shelter Petualang



Kebahagiaan saya deras ditumpahkan dari langit. Satu persatu sahabat mengikhlaskan diri melepas masa lajangnya, ada yang sedang dag-dig-dug menunggu kelahiran buah hatinya, dan yang lebih menggembirakan saya adalah seseorang yang rela melarungkan pekerjaan mapannya di sebuah perusahaan, jenjang karir menjanjikan, nominal gaji yang bagi saya membuat ngiler. Baginya saat ini tak ada yang lebih menantang selain menjadi majikan atas dirinya sendiri. Ditanggalkannya high heels, kemeja rapi yang selalu mendapat lirikan mata setiap keluar gang. Kini dia sedang akrab menikmati episode baru dalam hidupnya.

Saya pernah merasakan betapa menderitanya makan di restoran cepat saji. Kejadiannya baru beberapa hari yang lalu. Bahkan tiap orang dibatasi dengan sekat-sekat. Memandang pun diartikan pandangan ‘mengancam’. Dulu warung-warung kopi, angkringan, warung soto adalah tempat melepas lelah. Di sana mereka akan berbagi cerita yang kadang tak mampu mereka ceritakan pada sembarang orang. Berbagi canda meski tidak bisa menyelesaikan hutang, setidaknya mampu mengalihkan, paling tidak menunda rasa pening di dalam kepala.

Keakraban rasa itu yang coba ditawarkan Shelter Petualang. Sebuah cafe berkonsep lesehan yang berada di jalan Kemayoran-Sunter. Tepatnya di belakang mall ITC Cempaka Mas. Sekira 500 meter dari pertigaan ASTRA-Honda.

Menunggu Maghrib sambil ngopi.

Bertukar rasa. Mencoba menarik suasana yang sering kita temui di gunung. Khususnya bagi sobat hobi mendaki gunung, pasti merasakan suasana keakraban itu. Nuansa guyub sebagaimana saudara yang lama tak berjumpa. Rasa di lidah seolah menjadi yang nomer sekian. Yang utama adalah persaudaraan itu sendiri. Pas dengan tag line yang diusung, “Seduh kopimu, bagi kisahmu”.

Urip ning donya ki mung panggonan mampir ngombe. Hidup di dunia itu cuma tempat mampir minum. Dunia itu hanya tempat singgah sementara. Begitupun dengan konsep yang diangkat Shelter Petualang. Seperti laiknya shelter, bukanlah tujuan utama, melainkan tempat yang menawarkan jeda sejenak. Meredakan lelah, sedih, juga kejombloanmu itu. Paling tidak, nongkronglah tiap malam minggu di sana, biar hidupmu nggak kering-kering amat dalam kesendirian. Haha... :D

 
Anda bisa membaca majalah sembari menunggu pesanan.


Kapan lagi nyari tempat makan sambil nyari referensi destinasi jalan-jalan.


Maman, co-founder Shelter Pendaki ini seperti mata bagi setiap pendakian bersama saya. Kemampuan jelajah medannya tak diragukan lagi. Pengalaman mendaki gunung dengan berbagai medan layak anda jadikan tour guide dalam perjalanan pendakian anda.

“Jadi kedepannya mau gimana, Bro?”
“Ya... pelan-pelan. Nanti dirapikan dulu. Dindingnya belum sempet dilukis. Rencananya nanti pasang wifi, biar pada betah yang nongkrong. Sesekali bolehlah kita adakan program mendaki bareng? Emang Lo nggak kangen apa naik gunung?” Sungging bibirnya nyengir Badak. Matanya melirik ke arah saya, sambil mencairkan coklat di panci.
“Hehe... Ya, nantilah. Lihat jadwal kenegaraan dulu. Haha...”

Ini saya intipkan menu yang sempat diabadikan dalam jepretan kamera. Kalau ngiler, segera saja meluncur ke TKP. Jangan lupa bawa uang. Hehe...





Keramahan adalah warisan budaya nenek moyang. Mari kita lestarikan bersama. Asal jangan melestarikan pasanagan orang. Nyari ribut itu namanya. Hahaha...










 
 
Blogger Templates