Social Icons

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

22 Jun 2016

Resensi Kumcer Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita Lainnya


 
Dua kali saya membaca Kumcer, “Sundari Keranjingan Puisi.” Selama bulan Ramadhan ini saya mengalami penurunan konsistensi membaca. Saya membaca beberapa buku tapi tidak tuntas, karena bosan dengan gaya menulisnya. Ada yang terlalu klise, ada yang terlalu bertele-tele dalam menuangkan ide. Jika berada pada situasi seperti ini, aktifitas membaca buku bisa jadi lebih menyebalkan dibandingkan ketika antrian belanja saya diserobot ibu-ibu dengan alasan belanjaannya cuma sedikit.

Berbeda dengan buku terakhinya, “Tuhan tidak makan ikan dan cerita lainnya” buku kedua GTA, kumcer yang diterbitkan Margin Kiri ini dibuka dengan kisah religius. Cerpen bertajuk, “Untuk Siapa Kau berdoa, Ana?” bercerita tentang pergulatan batin Ana. Seorang anak yang dalam pertumbuhan menjelang dewasanya mulai meragukan kekuatan doa. Bagi Ana hidup itu seperti sebuah buku. Seberapa rajin engkau berdoa, percuma saja. Karena garis takdir sudah dituliskan dalam kitab lauhil mahfudz. Kitab Yang digariskan Tuhan. Sama persis seperti penulis yang berkuasa atas tokoh rekaannya. Kisah seperti ini banyak ditemui dan sampai sekarang jadi perdebatan yang menghasilkan aliran fatalisme dalam agama. Proses berbaliknya keyakinan Ana pada Tuhan berawal dari kematian sang ayah, yang meninggal dalam baku tembak dengan kelompok separatis Aceh. Konflik batin itu merekah sejak peristiwa kematian Sang Ayah.

 Dua cerpen yang memiliki satu garis kesimpulan, “Kapulaga dan Para Pengudap Duka” serta “Linda dan Lukman.” Bercerita tentang orang yang sudah dibutakan oleh keinginan. Bagaimana Linda, perempuan cantik, mapan dan berpendidikan pun sering terjebak pada janji pribadi. Mereka-mereka yang tak bisa menemukan prioritas mana yang lebih utama akan terjebak dalam kenistaan keputusannya. Entah lugu atau bodoh lebih tepatnya. Linda adalah cermin banyak perempuan di dunia nyata yang mengorbankan segalanya demi cinta khayali. Logika telah mati jika cinta berada di ujung mata. GTA memadu padankan keluguan, kebodohan, kenekatan, dan kekonyolan sekaligus di dalam cerpen ini. Sedang untuk “Kapulaga dan Para Pengudap Duka” berisi para Chef yang telah dibutakan akalnya karena kemampuan Kapulaga menyihir lidah mereka. Mereka menghalalkan apa saja demi tercapainya tujuan. Kisah diakhiri dengan pasrahnya Kapulaga menjemput kematiannya sendiri. Bukankah ada di antara kekasih Tuhan yang diberi sedikit kemampuan “ngerti sak durunge winarah.” Mendapat bocoran informasi sebelum sebuah peristiwa terjadi. Kapulaga menjemput kematian dalam kedamaian bersemedi.


Anti Romantisme picisan. 

Ringan. Sederhana. Sedikit akrobat kata. Namun sarat makna. Bukannya tidak bisa romantis. Saya yakin alumni UNS fakultas Sastra dan Seni Rupa ini bisa merangkai kalimat indah dan liris. Bermain-main dengan diksi yang puitis. Namun, GTA memilih genre-nya sendiri. GTA cenderung ingin menjungkalkan nilai-nilai romantisme picisan yang pondasinya sudah terbangun berabad lampau. Bagaimana kisah kutukan puteri tidur, obatnya bukan ciuman layaknya dalam dongeng sebelumnya, melainkan air kencing di bibir sang puteri. Tak ada kiriman bunga, puisi atau kisah indah tentang pernyataan cinta, yang ada adalah satir dan getir tentang sempak. Bukankah dunia kita sudah penuh dengan ilusi cinta semacam itu? GTA menyodorkan dekonstruksi pemahaman. Bahwa cinta ya cinta, tapi ya ndak mesti begitu itu, lho. Kejujuran itu lebih romantis. Apa adanya itu lebih baik dari pada menjadi orang lain.


Ulangi; Bacalah Seribu kali.

Pertama kali membaca kumcer ini perut saya sampai sakit. Di depan toko sehabis Maghrib saya terpingkal-pingkal sendirian. Sambil menunggu pengunjung, kali aja masih ada pengunjung yang nyasar. Seorang kawan yang lewat sampai penasaran. Bertanya saya sedang baca apa?

Pergilah ke suatu tempat untuk kedua, ketiga atau kesekian kali. Bacalah buku berulang kali. Maka engkau akan mendapatkan pemahaman baru setiap kali membacanya. Pada pembacaan yang kedua engkau adalah orang yang baru dengan pengetahuan yang baru. Maka, makna yang engkau serap akan berbeda dengan makna sebelumnya. Humor adalah kulit luar dari cerpen-cerpen GTA. Ada makna religius, ada pesan-pesan yang sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan kita. Misalnya perihal honor penulis dan kehidupan penulis yang begitu-begitu saja. Sebut saja dalam istilah penulis medioker, atau silakan pilih sendiri dalam kata lain yang lebih tepat. Menulis adalah pekerjaan sunyi. Meski tulisan seorang penulis merambah ke pelosok negeri, jangan harap ketenaran penulis itu bisa seperti penyanyi dangdut koplo yang cukup dengan satu single baru atau remake lagu bisa terkenal di mana-mana.

Mengantuk di kantor, menikmati musik dan buku bajakan. Bukankah itu kita. Dunia yang kita akrabi. Perihal musik bajakan, silakan baca, “Haji Inul dan Ayat Bajakan.” GTA mengolah sedemikian rupa. Mengisahkan fatwa haram dari seorang ustadz yang dihormati di kampung. Setelah sekian tahun membiarkan warga “menikmati” hak kekayaan intelektual orang lain dengan semena-mena. Tiba-tiba mengeluarkan fatwa bahwa semua itu haram. Setelah ditelisik ternyata ada pesan titipan dalam fatwa tersebut. 

Ada nabi yang ditahbiskan kaya raya, ada yang tampan, cerdas. Ada Kiai yang setiap katanya meneduhkan, ada yang jenaka cara dakwahnya, ada juga Kiai yang setiap katanya bagaikan pentungan. Pun begitu. Tiap penulis akhirnya memilih pakem apa yang kiranya pas untuk dirinya. Ada yang memilih idealisme sebagai acuan ada yang menitipkan pesan lewat kalimat menyek-menyek, ada yang bisa menulis berbagai genre. Sebagai pembaca saya lebih suka menempatkan diri sebagai pembaca apa saja. Sekali lagi itu soal selera. Suka ya ambil, ndak suka ya tinggalkan. Itu saja. Sekian.
                          



Judul                            : Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita Lainnya.
Penulis                         : Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit                       : Marjin Kiri.
Cetakan Pertama          : Agustus 2015
Dimensi                       : 14 x 20,5 cm
Tebal                           : 132 Halaman

13 Mei 2016

Resensi Kumcer Wajah Negeri yang Terlupakan.



Membaca buku “Wajah Negeri yang Terlupakan” seperti membaca hidup penulisnya. Saya menerka bahwa hampir separuh kisah yang disajikan adalah hasil olah pengalaman dan pengamatan sekelilingnya. Dari sudut pandang kaum proletar Sang penulis mengambil sudut pandang dan memposisikan diri. Cerita dibuka dengan sosok bocah kecil pencinta hujan. Dalam arti yang satire. Seorang anak yang dipaksa keadaan untuk ikut membantu keuangan kedua orang tuanya. Sang Ayah harus menjadi pengemis karena kecelakaan yang menyebabkan cacat permanen, dan PHK tak luput dari ujian berikutnya. Jalinan kisah berkelindan dengan seorang lelaki kelas menengah yang sedang mengalami keretakan rumah tangga. Kenyataan hidup yang kontras. Menggambarkan dua keluarga dengan dua sisi yang paradoksional. Yang satu keluarganya utuh, harmonis namun mengalami kesulitan ekonomi, sedang satunya dalam keadaan ekonomi yang mapan namun kondisi rumah tangganya sedang dalam keadaan yang tidak kondusif.

Penulis mengajak kita untuk merenung dengan kehidupan wong cilik. Aktifitasnya sebagai seorang akuntan di sebuah kementrian begitu kental dalam tulisannya. Juga pengamatan tentang kehidupan di sepanjang rel kereta api menjadi salah satu  cerita yang runut.(Mengingatkan saya pada Sungging Raga, yang sering menuliskan ihwal kereta api dalam cerpen-cerpennya, tentu dengan sudut pandang yang berbeda). Mas Joko Rehutomo mengalami peristiwa penertiban area stasiun yang terjadi pada era Ignatius Jonan. Hal yang menjadi dilematis. Kebutuhan perut selalu menjadi alasan klasik, sedang di sisi lain, pemerintah dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik berupa ketertiban dan tempat yang nyaman. Sayangnya kedua kubu seringkali tidak pernah menemukan titik temu. Dan ujung dari peristiwa perulangan sejarah itu; yang kecil harus menyingkir.


Jawa sentris

Orang Jawa bertutur tentang kehidupan orang Jawa. Enam belas cerpen yang terangkum dalam Kumcer ini hampir semuanya beraroma Jawa. Mulai dari nama, setting, juga polemik kehidupan yang dialami. Pun jika setting bukan di Jawa, kisah yang dihadirkan adalah cerita tentang orang Jawa yang merantau di Jakarta atau tempat lain. Hadir pula tokoh dan selipan cerita pewayangan semisal Arjuna, Bimasena, Lesmana dan lain-lain. Tentu hal ini tak lepas dari kelahiran penulis sendiri, yang memang besar dan tumbuh di Provinsi Jawa Timur. Frase, peribahasa, klenik Jawa tersebar di sana-sini. Entah ini disengaja atau tidak oleh Mas Joko. 

Menimbang kedekatan saya dengan pribadi penulis. Saya tahu bahwa beberapa cerpen yang dikisahkan di dalam buku ini tak bisa lepas dari kemelekatan pribadi Mas Joko dan lingkungannya. Ada satu cerpen yang mengisahkan tentang keluarga beserta kakak perempuannya yang mengidap kanker payudara. Meski di kemudian hari kakaknya dipanggil lebih dahulu setelah berjuang dengan anugrah Tuhan itu. (Semoga almarhumah diberikan keluasan rahmat dan cinta yang tak terhingga dari Yang Maha Segalanya. Amin...)

Penulis sendiri saya kira besar dan tumbuh dari keluarga kelas menengah. Gaya tutur yang lembut, sopan dan terkesan menghindari kalimat-kalimat langsung dan sarkasme diganti dengan kalimat melingkar. Sebut saja kata perawan diganti dengan mahkota satu-satunya bagi seorang perempuan, Bahkan dalam kasus pertikaian pun dipilihkan gaya yang “njawani banget.” Sebut saja salah satu adegan seorang ibu yang memilih diam menahan sekam amarah, diikuti dengan ngambek mengurung diri dalam kamar. Dalam kepala saya seolah berdiri seorang Raden yang menceritakan kisahnya saat menjelang usia senja. Sopan santun, unggah-ungguh dijaga dan dipertahankan. Atau mungkin ini penulis tetapkan karena ikut tergabung dalam salah satu komunitas menulis yang konon menjaga sastra santun. Keberadaan dua buah cerpen berjudul “Elegi Stasiun Tua” dan “Senja Wihara Tua” seolah hanya sekedar selingan semata, agar cerita tak terlalu Jawa sentris.


Penghormatan Setinggi-tingginya Pada sosok Ibu.

Dalam cerpen yang berbeda, Mas Joko menggambarkan sosok perempuan Jawa yang sempurna. Lembah-lembut, nrimo ing pandum (menerima keadaan) meski menjadi seorang perempuan yang diduakan, sosok ibu dalam tokoh cerpen Mas Joko ditokohkan dengan perempuan Jawa yang sekali lagi saya katakan sempurna. Tetap menjadikan suami yang tak lama menyambangi rumahnya sebagai seutuhnya pria dalam hidupnya.

Juga tokoh Bunda dalam cerpen “Pesarean.” Sosok Tuhan yang mengejawantah ini digambarkan begitu agung, tulus dan lugu. Sebagaimana penulis lain yang menggambarkan tokoh dalam kisah hidupnya. Pram misalnya lebih menyukai sosok pilihan perempuan yang tangguh, cerdas, dan mandiri; Nyai Ontosoroh dan Gadis Pantai. Nama terakhir konon merupakan bentuk “pemujaan” setinggi-tingginya terhadap sikap mendiang nenek Pram. 

Lain hal misalnya Andrea Hirata yang lebih menitik beratkan pada sosok “ayah nomer satu sedunia.” Tentu keberpihakan dan sisi kedekatan emosional tiap penulis berbeda-beda. Dan tanpa mengurangi sisi manusiawi sebagai seorang anak. Memilih kedekatan emosional antara ayah atau ibu tentu tak terelakkan.


Menunggu Kejutan Sang Idealis.

Sebenarnya saya sedikit kecewa. Ekspektasi saya tentang pegawai negeri di salah satu kementrian negeri ini ternyata sedikit meleset. Memang ada satu dua sentilan melalui kisah surealis dalam cerpen “Saksi Sumbang” kisah tentang tokek yang jengah melihat transaksi di balik terali besi. Juga sindiran halus Patung MH Thamrin. Sedari awal membaca Kumcer ini dari halaman per halaman saya menunggu tema tentang keberadaan kisah tikus-tikus di balik meja, transaksi-transaksi dengan nota fiktif, atau kasus lain yang bersentuhan langsung dengan keseharian penulis. Mungkin Mas Joko punya alasan yang lain. Entahlah.

Tak ada gading yang tak retak. Tentu tak semua karya bebas dari kekurangan. Saya menemukan sedikit kesalahan logika yang ada di cerpen “Perempuan Pinggiran” setidaknya ada dua kesalahan logika yang ada di sana. Misalnya bagaimana seorang Nunung yang serta merta gigi depannya tanggal sebanyak empat buah bisa berbicara jelas? (orang ompong biasanya kesulitan dalam mengucapkan huruf tertentu)
Lalu diceritakan pada paragraf selanjutnya ketika penyebutan Nunung sebagai “Janda Kembang.” Istilah janda kembang yang saya tahu mengacu pada janda yang ditinggal mati oleh suaminya tanpa seorang anak yang menyertai. Di dalam cerpen itu dikisahkan Nunung sebelumnya telah menikah dengan suami pertamanya dan dikaruniai seorang anak?

Pada akhirnya penulis telah mati setelah karyanya lahir. Silakan menikmati buku ini. Anda akan disuguhi cerpen realis dan surealis. Jika ditanya cerpen mana yang menurut saya paling oke? Pilihan saya jatuh pada “Dramaturgi Katak.” Anda penasaran dengan kisahnya? Silakan beli di toko buku terdekat, atau silakan hubungi penulis langsung di akun FB (Joko Rehutomo) atau via email: rehutomosunu@gmail.com. Selamat membaca dan salam literasi.




Judul Buku          : Wajah Negeri yang Terlupakan
Penulis                : Joko Rehutomo
Penerbit              : Trust Media
Tebal                  : 206 Halaman.



8 Mei 2016

Resensi Kumcer Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya



Saya masih berusaha menahan tawa ketika menulis artikel ini. Baru beberapa menit yang lalu saya mengkhatamkan kumcernya Gunawan Tri Atmodjo, “Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya.” Buku kedua yang saya baca. Buku pertama Mas Gunawan yang saya baca adalah “Sundari Keranjingan Puisi.” Di tengah kegamangan acara televisi yang saling beradu rating, tanpa memperdulikan moralitas. Di tengah kejenuhan media sosial yang makin hari makin tidak karuan sehabis pilpres terakhir, dendam kesumat, saling ejek di kedua kubu yang kian hari tak terbaca tanda surutnya. Buku yang sengaja saya pesan langsung dari penulisnya ini memberikan obat bagi jiwa yang merana seperti saya ini.

Kebahagian yang tak tergambarkan. Mas Gunawan selalu menyodorkan istilah, frase, juga candaan-candaan khas “celelekan” orang Solo dan sekitarnya. Bisa dilihat dari pilihan nama tokoh yang terkesan dipilih sekedarnya saja. Asal jadi, asal ketemu dan asal njeplak. Seolah bagi penulis, nama itu tak terlalu penting. Salah satu pembuktian bagi penulis pemula bahwa pemilihan nama karakter merupakan kesulitan yang sebenarnya bisa dihindari. Sebut saja deretan nama: Rika Ribut, Santoso Sejahtera (Perkiraan saya penulis suka baca komik, karena menggunakan inisial nama yang tak asing. Ingat tokoh Peter Parker?), Rima yang nama panjangnya Terima Kasih, Ha Jingang (Plesetan dari umpatan Bajingan), Pa Lonten (Palonten: tempat prostitusi), Didik Rabiulakhir, juga sederet nama dan istilah yang sebenarnya dekat sekali dengan keseharian kita. (Terutama yang besar dan tumbuh di Solo dan sekitarnya)

Sederhana, mudah dimengerti dan tentu saja penuh sisipan joke yang membuat tertawa terpingkal-pingkal. Membaca cerpen-cerpen Mas Gunawan seolah-olah mengajak kita untuk ikut melihat kondisi yang ada disekitar kita. Melihat dan ikut membersamai cerita tersebut. Bukan sekedar mengintip atau mengamati persoalan dari balik kaca.

Reading is healing. Bahwa dunia sastra tak melulu harus diisi dengan imajinasi yang rumit, serius dan angker untuk pembaca awam. Jangan salah. Bukan hanya persoalan-persoalan remeh-temeh yang diangkat dalam tulisannya. Sebut saja cerpen yang berjudul, “Imam Ketiga.” Ini adalah cerpen favorit saya dalam kumcer ini. Bagaimana Mas Gunawan mengisahkan persoalan “perebutan kekuasaan,” yang nampaknya hanya persoalan sepele; menjadi imam mushola. Dan sebenarnya ini menjadi kisah klasik tak bersudahan di beberapa tempat. Termasuk musholla tempat tinggal saya sekarang ini.

Menurunkan derajat Ke-tabu-an.

Di tangan penjahat pisau menjadi alat pembunuh, di tangan ibu-ibu rumah tangga pisau jadi alat dapur, di tangan tukang daging pisau jadi alat pemotong. Di tangan Mas Gunawan kata dan istilah yang  dianggap “ora elok” tidak pantas diucapkan itu dijadikan bahan guyonan yang segar. Maka deretan istilah yang dalam keseharian kita dianggap sebagai kata “makruh menuju haram,” di tangan Mas Gunawan dijadikan bahan olok-olok belaka. Sebenarnya seperti pisau di atas. Kata makian pun akan berbeda makna jika dipakai pada siapa, saat apa, dan dalam intonasi seperti apa. Kalau meminjam istilahnya Kang Tep (Panggilan Taufan E. Prast) itu soal rasa bahasa. Sama semisal orang Jawa Timur yang tiap bertemu dengan kawan lama hampir tak lupa mengucapkan kata, “Cuk” (=jancuk).

Apakah ada yang salah dengan kata makian? Cak Nun dalam sela-sela ceramahnya sering melontarkan kata makian, kata jorok yang membahagiakan jama’ahnya. Persoalan yang sering terjadi kita sering mengagungkan pakem dan menafikan nilai yang lain. Sehingga tolok ukur kebaikan, kebenaran itu sesuai kacamata “kekakuan” fiqih semata.

Barang kali ada beberapa orang yang tak mau disama-samakan dengan orang lain. Tapi apa boleh buat, cara mengemas dan konten yang berusaha membuat sesederhana mungkin persoalan yang dilakukan Mas Gun mengingatkan saya pada tulisan-tulisan renyah dan gampang ditelan ala Kang Jalal (Prof. Jalaludin Rakhmat). Menikmati karya keduanya tak perlu mengerutkan dahi. Silakan baca cerpen utama yang sekaligus menjadi judul buku tersebut. Tak ada istilah lokal yang njelimet seperti cara penulis lain yang seolah ingin mencitrakan rasa lokal. Tentu cara itu sah dan tak ada salahnya, namun kekurangannya terletak pada pembaca yang kebetulan orang luar daerah atau di luar keilmuan yang harus bolak-balik melihat catatan kaki untuk sekedar menikmati cerita itu.


Kekentalan Lokalitas.
Mas Gunawan nampaknya salah satu penulis yang konsiten mengangkat lokalitas Solo. Cerita, nama dan tema yang merakyat menjadikan saya yang kebetulan dilahirkan di sekitar Solo. (Tepatnya di Kabupaten Sragen. Lebih tepatnya Solo coret). Cak Nun punya Markesot, Sungging Raga dengan Nalea, SGA melahirkan Sukab, Dan GTA punya anak kandung bernama Trijoko dan Sundari. Dua tokoh yang berganti baju dan peran di beberapa cerpen yang dituliskannya.

Selain tempat, nama dan kebiasaan ada satu hal lagi yang tak lupa diselipkan GTA dalam cerpennya, yakni tentang secuil kisah musik Dangdut. Terutama genre Dangdut Koplo. Beberapa nama penyanyi tak luput dari penyebutannya.

Well di akhir tulisan saya simpulkan selamat membaca dan selamat tertawa. Selamat menikmati Sanggar Seni Sari Rapet, Fredy Surga yang tak dirindukan, Gracia Senantiasa Bermuhasabah dan tentu tak ikut tertinggal; Koko Peli yang membuat saya tertawa lepas. Hingga lupa bahwa saya punya utang di warung sebelah.


Judul     : Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya
Penulis   : Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit : Diva Press
Tahun Terbit : Mei 2016
Tebal : 244 halaman




Desain sampul yang ciamik.
Sayangnya saya bukan kolektor kata kata mutiara seperti Sundari.

19 Apr 2016

Review Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon









Sampul Kumcer Eko Triono



Hal yang sangat penting. Terutama bagi saya pribadi, mengenal karakter seorang penulis buku. Karakter sebenarnya, bukan karakter tokoh yang dia ciptakan dalam cerpen maupun novel. Meski sah-sah saja jika ternyata ada seorang penulis yang begitu besar karyanya, diminati dan dielukan di seantero jagad, namun jika ternyata suatu hari, saya mendapati bahwa tokoh-tokoh  impian yang diciptakan tak sesuai dengan dirinya, maka orang itu di mata saya tak lebih dari seorang pembual saja.  Seorang penulis adalah Tuhan bagi karyanya, terserah dia mau membuat karya seperti apa, tapi bagi saya pribadi, penulis yang baik itu tak terlepas dari nilai yang dia impikan dalam sebuah cerpen. Bukankah hampir sebagian besar penulis adalah pemimpi dalam dunia fiksi. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang “lari” dari peliknya hidup, tentang penderitaan yang tak menemukan keadilan, kesedihan-kesedihan dalam patah hatinya, atau emosi lain yang diselipkan dalam cerita rekaan mereka.

Seperti mubalig. Tokoh dalam sebuah cerita adalah refleksi diri dari penulis. Bayangan dari geber dalam pewayangan. Meski tak selamanya begitu. Bisa saja penulis menciptakan karakter jauh keluar dari kediriannya. Percuma saja mubalig yang pandai berceramah, pintar menyitir dalil-dalil jika kenyataan antara mulut dan laku lampahnya teryata jauh panggang dari api. 

Saya mengenal Eko Triono kurang lebih setahun yang lalu. Kebetulan Eko menginap di kosan saya waktu itu. (bedeng lebih tepatnya, Haha... harap dimaklumi waktu itu kosan saya dekat dengan kali. Karena memang waktu itu bukan prioritas untuk mencari kosan yang layak. Rencana tinggal di kos hanya beberapa bulan saja). Itu pun saya tidak sempat ngobrol panjang lebar. Hanya sebatas tegur sapa biasa. Karena malam hari ketika Eko datang, saya sedang asik mendengarkan diskusi di acara rutin Kenduri Cinta, Taman Ismail Marzuki.

Takdir yang mempertemukan kami berdua. Waktu itu jaket kesayangannya tertinggal di kosan. Kebetulan Eko sendiri sering bolak-balik Solo-Jakarta. Dua minggu sekali kalau saya tidak salah. Eko terpilih menjadi salah satu peserta kelas menulis novel yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta.

Saat itu saya berjanji untuk bertemu dengannya di stasiun Senen. Di warung penjual donat kami ngorbol panjang lebar. Tepatnya saya menjadi pendengar yang beruntung mendengarkan kisah hidupnya yang heroik. Mulai dari kisah mendebarkan ketika dia dan keluarga harus keluar dari Aceh karena sedang terjadi konflik (Kisah ini dituangkan dalam cerpen berjudul, “Mereka Mengokang Senjata”), masa-masa “kesepiannya” selama sekolah, hingga waktu Eko mencemplungkan diri dalam kawah Candradimuka. Perpustakaan sekolah. Konon hanya lewat tulisanlah dia bisa menghilangkan trauma masa kecilnya.

Dia adalah seorang yang melampaui usianya. Saya yakin dibalik cerpen-cerpen yang terlihat “rumit” ada yang lebih berkecamuk di dalam kepalanya. Entah itu persoalan hidup atau kumpulan bacaan yang saling bertarung di tempurung kepalanya. Dan... Well, sebagai orang yang terlahir lebih dulu ke dunia, saya harus menundukkan kepala saya serendah-rendahnya di hadapannya. Sambil berucap, “Jadikan aku muridmu, Shifu... :D”

Pengalaman hiduplah yang mengajarkan seseorang tentang kedewasaan. Karakter terbentuk dari cara mengambil sikap terhadap polemik yang sedang dihadapi. Sejak saya dipinjami buku kumcernya yang berjudul “Kakek dan cerita lainnya.” (Ikal yang meminjamkan saya buku tersebut), saya langsung kagum dengan apa yang ditulisnya. Terutama cerpen, “Ikan Kaleng.” Saya bukan pembaca yang baik, karena sampai saat ini pun saya sendiri tak bisa mengklasifikasi ini cerpen realis, surealis atau apalah sebutannya dalam dunia sastra. Saya menikmati cerpen hanya sepintas lalu. Saya lebih menikmati pesan apa yang disampaikan penulis dari pada sekedar akrobat kata. Seringkali saya tersesat pada sebuah cerpen yang memainkan kata dan ketika cerpen itu berakhir saya seperti orang yang masih terkena sihir kata-kata itu tanpa tahu pesan yang disampaikan. Bisa sampai pesan itu, namun kurang utuh, ada yang “tercecer” dalam muatannya.

Jadi berdasarkan bacaan saya yang tidak seberapa, saya hanya bisa menyimpulkan Kumcer “Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon.” Sebisa saya. Kalau perihal kritik sastra, sudah ada maestro-maestro yang menuliskan essai di awal halaman kumcernya. Ibarat sama-sama punya lidah, tak semua orang bisa mendefinisikan rasa enak tidaknya sebuah masakan. Sudah ada Tim Kurator yang hebat di dalam pengantar buku tersebut. (Ada Bang Joni Ariadinata, Pak Tia Setiadi, Pak Edi,  Pak Ahmad Muchlis Amrin). 

Saya kira Eko merupakan sosok penulis muda harapan bangsa. (Habis itu saya langsung kerek bendera bertulis Eko Triono. Haha... ). Sekali lagi sebagai pembaca buku apa saja, saya memberikan tiga jempol buat Eko, soalnya satu jempol sudah dipakai buat SIM. Apresiasi yang setinggi-tingginya buat Kumcer yang diterbitkan Diva Press. Cerpen ini membuat saya belajar banyak tentang bagaimana menulis cerpen, eksplorasi “ide-ide liar” yang dilakukan Eko. Saya kira Eko adalah penulis yang berani melakukan eksperimen-eksperimen, baik dari segi plot maupun kaidah umum sebuah cerpen. Ada satu fiksimini yang ditulis dalam satu paragraf. Juga ada yang ditulis satu kalimat utuh, tanpa jeda tanda koma maupun titik. Silakan beli dan baca sendiri kumcer ini. Nanti kalau kebanyakan dikiranya saya promosi. Satu cerpen yang membuat saya tersenyum-senyum adalah pengolahan ide yang menurut saya sederhana sekali, tapi penuh dengan riset yang matang yaitu cerpen, “Sepasang Semut dalam Tetes Mata.” Jika membaca cerpen ini saya jadi teringat gaya Mas Gunawan Tri Atmojo yang menurut saya asik bercanda dengan cerpennya. Bagi kedua penulis ini barang kali cerpen adalah makhluk yang sudah “dijinakkan.” Jadi terserah mereka mau nulis apa dan bagaimana. 

Akhir kata, selamat membaca kumcer ini. Saya kira anda tidak akan menyesal membelinya. Dan standing applouse buat Amo ( Saya nggak tahu ini cewek apa cowok) Ilustrasi cerpennya bagus sekali. Terima kasih sudah membuat saya bahagia.

ilustrasi cerpen, "Pledoi Spesies Tikus"



                       
 
 
Blogger Templates